..

..

Whois Online?

Saturday, December 24, 2016

Abas CH, Sang Legenda Waosan Buku Bahasa Jawa ...

Abas CH (Sumber: Radio Retjo Buntung, Yogyakarta)
Siapa tidak mengenal Abas CH? Bagi yang berasal dari Yogyakarta pasti pernah mendengar bacaan buku Abas CH di Radio Retjo Buntung. Abas CH bak seorang dalang pada saat membawakan bacaan buku. Bagi yang tidak menyadari, pasti tidak tahu bahwa bacaan buku yang dikemas seperti sebuah sandiwara radio itu hanya diperankan oleh satu orang. Abas CH bisa berlaku sebagai pembawa cerita, sekaligus pengisi suara untuk menghidupkan dialog setiap tokoh dalam cerita tersebut. . Baru saya sadari sekarang, setelah saya bermukim di Jepang. Ternyata Abas CH berasal dari satu kampung yang sama dengan saya. Kulonprogo, Yogyakarta. Meskipun saat ini Abbas CH telah berpulang, tapi suaranya akan tetap abadi di benak saya. Berikut ini adalah kisah Abbas CH yang saya temukan di slideshare.com yang dituliskan oleh saudari Misni Parijati. Dan saya salin dan saya publish kembali di sini sebagai bentuk penghormatan saya untuk beliau.

Abas CH:
Ia Mengabdi Melalui Dongeng
Oleh : Misni Parjiati

Bagi pendengar dongeng dan sandiwara di radio tentu tak asing dengan nama Abas CH. Ia juga seorang guru. Pada suatu Jumat petang ia berkenan berbagi cerita kepada kami mengenai mengajar dan mendongeng. Dua hal yang telah puluhan tahun ia Iakoni.

Ahmad Bashori atau lebih dikenal dengan nama Abas CH. Seorang pendongeng yang rutin mengisi acara di Retjo Buntung FM. di luar kesibukannya itu ia juga seorang guru Pendidikan Agama Islam.Setiap hari sekitar pukul 06.00 WIB ia berangkat dari rumahnya menempuh jarak lebih-kurang 35 kilometer dari rumahnya di Desa Tirtorahayu, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo menuju tempat ia mengajar di SD Jamus 1, kecamatan Luwar, Kabupaten Magelang.

Ahmad Bashori sejak kecil memang ingin menjadi guru. Pada 1971 ia mengikuti pendidikan guru agama di Bantul. Sejak 1978 ia mulai mengajar. Gelar D2 ia peroleh dari IAIN Walisongo pada 1996, yang kemudian dilanjutkan di STAIN Masjid Syuhada pada 2003.

Sejak kecil ia telah akrab dengan dongeng atau cerita, “Waktu kecil ibu saya sering dongengi,” tukasnya. Pengalamannya menjadi penyiar remaja di radio persatuan Bantul merupakan awal mula ia menjadi pendongeng. “Waktu jadi penyiar di sana mulai bikin paket cerita, ternyata banyak yang suka. Lalu 1981 saya jadi penyiar di radio Retjo Buntung sampai sekarang,” kata bapak tiga putra ini.

Keahliannya mendongeng pun ia terapkan dalam mengajar. Dongeng sebagai variasi dalam pembelajaran. Agar murid lebih memperhatikan pelajaran maka ia selingi dengan mendongeng. “Apalagi ini pelajaran agama, jadi ya diselingi dengan dongeng atau cerita sehingga menarik, daripada sekedar menghapal, mbak.” ujarnya pada kami saat kami menemuinya di kantor radio Retjo Buntung.

Lewat dongeng tak ada kesan menggurui, murid bisa langsung terkesan dan menangkap pesan yang ingin disampaikan lewat dongeng tersebut. Dongeng yang sering ia ceritakan biasanya berkaitan dengan materi pelajaran. Kisah para rasul dan nabi, dan kisah para sahabat. Selain itu ada juga dongeng atau cerita rakyat. “Seperti cerita tentang akibat orang yang durhaka berbuat dosa contohnya raja Firaun. Nah anak-anak bisa terkesan dan mungkin takut berbuat jahat dan mengambil contoh sifat para nabi dan orang saleh,” terangnya.

Selain itu dongeng dapat menumbuhkan daya imajinasi anak. Saat mendongeng sering dibarengi dengan akting, dan suara yang berbeda-beda. Dilengkapi juga dengan gambar-gambar dari buku. ”Sehingga anak mempunyai gambaran yang lebih bagus,” tambahnya.

Cara mendongeng ini tak hanya ketika mengajar pelajaran pendidikan agama Islam, namun juga saat ia mengajar pelajaran bahasa Inggris. Karena selain mengampu sebagai guru PAI ia juga mengampu guru bahasa inggris. Selama mengajar ia tidak melulu mendongeng, sering juga ia meminta giliran murid-muridnya untuk bercerita. “Mendongeng kan cuma selingan. Sering saya minta anak-anak yang cerita apa yang sudah mereka pahami,” katanya.

Saat murid-muridnya meski telah lulus tapi masih ingat dan hormat padanya, hal itu menjadi pengalaman yang berkesan dalam pengabdiannya sebagai guru selama 31 tahun. Seperti yang ia utarakan, “Saya senang karena masih diakui sebagai guru mereka. Mereka masih hormat dan menghargai saya. Karena mereka terkesan selama saya mengajar.”

“Mantan murid-murid saya sekarang sudah jadi orang sukses, tapi masih hormat dan menghargai saya. Tapi ada juga mantan murid saya yang jadi copet, pencuri, ya hal-hal buruk. Dalam hati mbatin, “kok murid-murid saya seperti itu' tapi yang namanya orang ya terbatas (kemampuannya),” lanjutnya.

Bagi Ahmad Bashori arti pendidikan adalah untuk mendewasakan anak. Mengajak anak lebih tahu hidup itu untuk apa, bukan sekedar meraih kepandaian. Mengajak anak ke arah kedewasaan dan punya akhlak mulia, itu bagi saya arti pendidikan,” jelasnya. Kecerdasan intelektual bersifat relatif. Tak bisa selalu satu-satu dijadikan patokan dalam menilai anak. Kecerdasan emosi anak juga mesti dikembangkan karena berpengaruh pada kehidupan masa depan anak. “Kalo IQ itu kan masing masing ya. Apa yang anak peroleh ia laksanakan,” tambahnya.

la ingin anak-anak yang menjadi generasi penerus selalu belajar. Mengacu pada agama yang mengangkat derajat manusia dan menjadi pembeda antara manusia dengan binatang adalah manusia mau membaca. “Seperti ayat pertama Alquran yang diturunkan adalah bacalah! Binatang kan nggak bisa baca,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa anak-anak bukan sekedar meraih tingkat pendidikan, namun lebih dari itu. Harapannya mereka banyak membaca tentang kehidupan sehari-hari, sehingga tahu kehidupan yang lebih baik.

Kegiatannya Sebagai Pendongeng

Selain menjadi guru Ahmad Bashori juga nyambi menjadi pendongeng dan pengisi sandiwara di radio Retjo Buntung. Pekerjaan ini sudah ia lakoni selama 28 tahun. Suaranya ketika mendongeng dapat kita dengarkan setiap hari pukul 13.00 kecuali Minggu pada acara Pembacaan Buku. Tiap Jumat sore ia take untuk acara Sandiwara Bahasa Jawa yang mengudara tiap minggu malam pukul 21.00 WIB. Setelah mengajar ia menuju kantor radio Retjo Buntung. Saat kami tanya apakah ia tidak merasa lelah dan jenuh dengan rutinitasnya. Ia menjawab, “Kan capek ya capek, tapi ini tugas. Tetap jaga kondisi tubuh saja. Tapi kalau sudah sampai di tempat tugas, misal di sini atau di sekolah jadi hilang capeknya.”

Sebagian besar muridnya tahu mengenai pekerjaan sampingannya sebagai pendongeng di radio. Pengalamannya sebagai penyiar dan pendongeng ia gunakan sebagai motivasi kepada murid muridnya. “Saya bilang ke anak-anak, “nek pinter kowe iso nyambi dadi penyiar: yo penyiar apa wae, iso penyiar radio, penyiar TV'. Mereka saya iming-imingi begitu,” ujarnya. Jika seseorang mempunyai keahlian apapun, itu mesti dikembangkan. Menurutnya setiap orang bisa mendongeng atau bercerita. Sudah mempunyai bakat tinggal dikembangkan dan dibiasakan.

Saat kami bertanya bagaimana memerankan tokoh yang berbeda-beda, ia menjawab bahwa penghayatan erat kaitannya dengan penguasaan materi. “Setelah menguasai materi saya pasti seakan-akan berlaku begitu. Misal perannya mesti marah-marah, ya saya marah-marah sampai teriak. Saya lupa kalo saya Abas,” jelasnya.

Prestasi yang pernah ia raih antara lain mewakili DIY sebagai pendongeng anak-anak nusantara pada Lomba Dongeng Anak Nusantara yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Seni dan Budaya di Jakarta pada 1998. Ia pernah mendapatkan penghargaan juara I lomba dongeng yang diselenggarakan oleh Kids Fun pada 1998. pada 2003 mendapat penghargaan di Kongres Bahasa Jawa [II di Yogyakarta.

Kegiatannya sekarang selain mengajar dan mengisi acara di radio Retjo Buntung, ia sering diminta mendongeng di depan umum dan menjadi juri dalam perlombaan dongeng anak-anak.

Sekitar empat tahun lagi ia purna tugas sebagai guru. Saat kami bertanya mengenai keinginannya setelah tidak lagi menjadi guru, ia menjawab, “Meski sudah nggak jadi guru saya masih ingin belajar. Dan kalau radio ini (Retjo Buntung) masih membutuhkan dan saya masih punya suara, saya akan tetap mendongeng.” pungkasnya.

Biodata :

Nama : AHMAD BASHORI S.Pd alias ABAS CH (Alm.)
Tanggal Lahir  : 15 Juni 1953

Alamat :
TIRTOYUDAN RT 28 RW 14 DESA TIRTORAHAYU, KECAMATAN
GALUR, KABUPATEN KULONPROGO

Pekerjaan :
GURU SD JAMUS 1, KECAMATAN LUWAR, KABUPATEN MAGELANG, PEN DONGENG

Dibawah ini adalah salah satu karya ABAS CH (Alm), dengan cerita "AKU JOKO DIK". Selamat mendengarkan !


Catatan:

Dari info yang saya dapatkan dari kaskus, Abas CH telah berpulang mendahului kita semua pada tahun 2010 pada usia 57 Tahun. Sehingga semenjak itu suara Abas CH sudah tidak terdengar lagi di Radio Retjo Buntung FM, di Kota Yogyakarta. Cerita "Aku Joko Dik" sendiri di atas disiarkan pada tanggal 7 Januari 2009 jam 13.00 - 13.30 WIB di RB FM, Yogyakarta.

Selamat jalan Abas CH, suaramu telah mewarnai Kota Yogyakarta selama kurang lebih 30 tahun dari Tahun 1980-an - 2010. Tentu banyak yang punya kenangan dengan suara Abas CH selama tumbuh dan berkembang di Kota Yogyakarta, termasuk saya ....

No comments: