..

..

Whois Online?

Thursday, June 4, 2009

Teddy Lukito dan Prita Mulyasari ...

Malem ini barusan ngobrol dengan Pak Teddy Lukito, yang jadi korban kesewenang-wenangan aparat beberapa waktu yang lalu terkait kepemilikan rumahnya. Mendengar kisah beliau, saya jadi paham mengapa kasus Prita Mulyasari yang menghebohkan itu bisa terjadi. Kedua-duanya berada di wilayah hukum yang sama, aparatnya pun sama. Jadi apa yang terjadi teman-teman sudah bisa menyimpulkan sendiri. Menurut Pak Teddy ada yang janggal dalam kasusnya karena penetapan Pengadilan ditetapkan tanpa beliau tahu ada sidang tersebut. Disamping itu rumah beliau dilelang dengan harga sangat jauh di bawah NJOP. Rumah seharga 600 juta itu cuma dilelang seharga 280-an jutaan. Tapi menurut beliau kasusnya sekarang sudah ditangani Komisi Ombustman, dan mendapat perhatian dari Presiden SBY. Komisi Ombustman menyatakan ada kesalahan prosedur oleh aparat hukum dalam kasus ini. Semoga kebenaran bisa ditegakkan di bumi Indonesia ini.
Sedikit mengingat, di bawah ini saya tampilkan berita eksekusi rumah Pak Teddy yang saya ambil dari Serpongkita.com :

Eksekusi sebuah rumah milik Teddy Lukito di Perumahan Melati Mas Pondok Anyelir Dalam Blok 22/46 Kelurahan Lengkong Karya Kecamatan Serpong Utara Kota Tangerang Selatan berlangsung histeris, Kamis (18/12).
Pemilik rumah yang tidak terima dengan eksekusi berteriak memaki petugas dari Pengadilan Negeri (PN) Tangerang yang akan mengosongkan rumah. Tiga anak pemilik rumah menjerit histeris ketika petugas mengelurkan barang-barang dari dalam rumah.
Bahkan, isteri Teddy Lukito, Heni (40) sempat jatuh pingsan. Ditambah lagi, Heni sempat mengunci pintu rumah untuk mencegah petugas masuk ke dalam. Petugas terpaksa harus mencongkel pintu menggunakan sebuah linggis agar dapat masuk ke dalam rumah. Pemilik lama akhirnya hanya dapat pasrah begitu melihat petugas dapat masuk ke dalam untuk mengeluarkan barang satu per satu.

Eksekusi rumah Teddy Lukito
Pemimpin eksekusi, Suherman mengatakan, rumah yang dieksekusi tersebut sesuai dengan surat keputusan PN Tangerang No 72/PEN.ES/2008/PN.TNG tertanggal 29 Oktober 2008. Pemilik rumah sebelumnya Teddy Lukito pernah menjaminkan surat rumah beserta bangunannya kepada sebuah bank, yaitu BCA. Tapi, kerena tidak dapat melunasi pinjaman tersebut, pihak bank terpaksa melelang tanah seluas 304 hektar tersebut. “Setelah dilakukan pelelangan, tanah tersebut dibeli oleh Rusdi. Harganya rumah beserta bangunan sebesar Rp 281 juta,” ungkap Suherman.
Sementara itu, Rusdi mengaku membeli rumah tersebut dengan harga Rp 325 juta berikut sertifikatnya. Tapi, pemilik rumah yang lama berjanji akan membeli kembali rumah tersebut secara mencicil. Namun, hingga Juli 2008, ternyata pemilik lama tidak dapat melunasi pembayaran rumah.
“Pemilik lama minta rumahnya dibeli lagi. Saya pun menyetujuinya. Tapi, setelah ditunggu lama pemilik lama tidak kunjung membayar rumah tersebut. Saya pun melaporkan hal ini ke pengadilan,” jelas Rusdi. (fiz)

No comments: