..

..

Whois Online?

Monday, July 16, 2018

Sertifikat Ahli Amdal / Limbah / Sampah Lisensi BNSP, dari mana anda bisa mendapatkan?

Saat ini, sebagai seorang ahli profesional di Indonesia, anda dihadapkan pada tantangan untuk mendapatkan sertikasi profesi, sebagai akibat dari lahirnya Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Jika tidak, maka anda sebagai seorang profesional tidak akan bisa bersaing dan terlindas oleh kemajuan jaman.

Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) adalah sebuah badan standarisasi yang diperuntukkan untuk membina kompetensi bagi para profesional di berbagai bidang tanpa kecuali. Di bawah BNSP, terdapat Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sebagai pelaksana operasional proses sertifikasi itu sendiri, sedangkan BNSP sifatnya adalah sebagai regulator dan fasilitator bekerjasama dengan kementerian teknis sebagai pembina sektor profesi.

Lembaga Sertifikasi Profesi Tata Lingkungan Industri dan Permukiman (LSP-TLIP), adalah sebuah LSP yang lahir untuk menjawab berbagai kebutuhan sertifikasi bagi profesional di bidang Tata Lingkungan. Saat ini LSP-TLIP sudah mendapatkan lisensi dari BNSP dan teregistrasi di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk bidang-bidang profesi:

  1. Ketua Tim Penyusun Amdal (KTPA)
  2. Anggota Tim Penyusun Amdal (ATPA)
  3. Manajemen HSE Limbah
  4. Manajemen Teknis (Supervisor) Limbah
  5. Operasi (Operator) Limbah
  6. Manajemen Pengelolaan Sampah
  7. Operasi Pengelolaan Sampah
  8. Operasi Transportasi Pengelolaan Sampah
  9. Supervisi Pengelolaan Sampah
  10. Analisis Sampah
Segera akan menyusul sertifikasi untuk ahli udara, dan ahli pengambil sampel air dan udara untuk Industri.

Bagi anda yang membutuhkan sertifikat profesi tata lingkungan untuk Ahli Amdal, Ahli Limbah, dan Ahli Sampah, dapat menghubungi LSP-TLIP, yang beralamat di Jln. Kebon Sirih No. 39 Jakarta Pusat, Telp. 021-23951603, E-mail: lsp.tlip@gmail.com. Atau silahkan lihat keterangan lebih lanjut di website : http:/www.lsp-tlip.or.id 

Sunday, July 15, 2018

Seaside Line - Kereta Api Tanpa Masinis di Jepang

Kanazawa Seaside Line

SEASIDE LINE atau tepatnya Kanazawa Seaside Line adalah sebuah kereta api tanpa masinis yang beroperasi di wilayah Yokohama, Jepang. Kereta ini dikendalikan dengan sistem kontrol jarak jauh, tanpa masinis dan tanpa petugas kereta api lainnya. Kereta ini dioperasikan oleh perusahaan Yokohama New Transit Co. Ltd. dan mulai dioperasikan pada tanggal 5 Juli 1989.

Kereta ini melewati rute sebanyak 14 stasiun antara Stasiun Kanazawa-Hakkei sampai dengan Stasiun Shin-Sugita. Adapun urutan stasiun yang dilewati adalah:
  1. Kanazawa-Hakkei
  2. Nojimakoen
  3. Uminakoen-Minaguchi
  4. Uminakoen-Shibaguchi
  5. Hekkeijima
  6. Shidai-Igakubu
  7. Fukuura
  8. Sangyo-Shinko Center
  9. Sachiura
  10. Namiki Chuo
  11. Namiki Kita
  12. Torihama
  13. Nambu Shijo
  14. Shin Sugita
Baik di stasiun maupun di dalam kereta api sama sekali tidak ada petugas, jadi semua operasional termasuk penjualan tiket kereta dilayani secara otomatis.

Pemandangan akses ke stasiun Seaside Line

Salah satu sudut Stasiun Namiki Chuo


Kereta Api Seaside Line sendiri sesuai namanya, sebagian jalurnya melewati rute yang berada di pinggir laut, sehingga pemandangan yang ada terkadang begitu menawan dengan latar belakang laut dan kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan. Kereta ini tidak menggunakan rel, tetapi menggunakan roda karet seperti roda mobil yang jumlahnya cukup banyak. Rangkaian kereta ini terdiri dari 5 gerbong.

Tampak depan Kereta Kanazawa Seaside Line




Bagi anda yang penasaran bagaimana rasanya naik kereta api ini, dapat menyaksikan video yang telah saya upload di Youtube, di bawah ini. Video ini durasinya kurang lebih 9-10 menit dan anda bisa melihat pemandangan di depan, serta kanan-kiri kereta api selama perjalanan berlangsung. Video ini sengaja tidak diedit, agar dapat memberikan gambaran yang natural terkait suasana yang ada saat menaiki kereta api ini. Selamat menonton video di bawah ini:


Berburu Alat Musik Bekas di HARD OFF - Jepang

Mall Hard Off di Jepang
Tahukah anda bahwa di Jepang banyak terdapat  Mall yang khusus menjual barang bekas. Berbagai brand Mall barang bekas di Jepang diantaranya adalah BOOK OFF, HARD OFF, SECOND STREET, WONDER REX dll.  Nah kali ini saya akan bercerita tentang Mall yang bernama HARD OFF .

Hard off sebagaimana mall barang bekas di Jepang, menjual berbagai barang yang semuanya bekas mulai dari baju, alat rumah tangga, elektronik, alat olahraga, alat musik dan lain-lainnya. Secara kebetulan hobby saya adalah musik, dengan sendirinya jalan-jalan ke Hard Off sambil melihat-lihat alat musik bekas adalah hiburan yang spesial buat saya.
Saya di depan Hard Off Yokohama

Harga alat musik di Hard Off ini bervariasi mulai dari yang murah sampai dengan yang normal. Yang murah biasanya adalah barang-barang yang dikumpulkan dari tempat sampah di Jepang, biasanya labelnya JUNK PART. Biasanya harganya berkisar 1000 Yen atau sekitar 100.000 rupiah. Mungkin anda belum tahu kalau masyarakat Jepang itu hobby membuang barang-barang bekas yang sebenarnya masih sangat layak pakai. 

Jadi seandainya anda tinggal di Jepang, sebenarnya dengan berbekal berburu ke tempat sampah, sebenarnya banyak barang yang bisa diambil. Meskipun begitu anda harus hati-hati, karena beberapa barang bekas meskipun sampah tetapi ada labelnya. Label itu adalah sebagai tanda bahwa barang bekas tersebut telah dibayar biaya pengolahannya, dan rakyat Jepang harus merogoh kantong untuk membuang sampah tersebut. Kalau anda mengambil barang tersebut, bisa-bisa ditangkap polisi di Jepang.

Nah, di bawah ini saya akan tampilkan beberapa foto tentang kondisi alat-alat musik  bekas yang dijual di Hard Off Jepang. Kebetulan yang saya kunjungi ini adalah salah satu Mall Hard Off di Yokohama, Jepang. Beberapa diantaranya adalah:

1. Gitar Bekas

Banyak ragam gitar bekas yang ada di Hard Off dari mulai guitar akuistik, sampai elektrik. Merknya pun bervariasi mulai dari merk papan atas seperti Fender, Ibanez, Yamaha sampai dengan merk yang kita tidak pernah temui di Indonesia. Harganya juga bervariasi sesuai spesifikasi yang ada.







2. Efek Gitar

Banyak jenis efek gitar yang dijual di Jepang, mulai dari yang analog sampai dengan digital. Harganya pun bervariasi. 




 3. Ampli Gitar
Ampli Gitar juga banyak dijual di Jepang, beberapa diantaranya bahkan barang JUNK PART yang harganya hanya sekitar 1000 YEN seperti saya jelaskan di atas. Meskipun Junk Part, tetapi ampli gitar yang dijual biasanya masih berfungsi dengan baik.






4. Keyboard

Keyboard bekas juga banyak dijual di Hard Off, harganya kadang sangat miring, tetapi kadang juga normal rata-rata.




5. Pemutar Audio HIFI dan Speaker

Pemutar Audio dengan sendirinya juga dijual di Hard Off. Ada juga dijual Audio Pro berupa Amplifier, Mixer, Equalizer, atau Speaker. Merk-merk Pro Audio yang terkenal seperti Electro Voice (EV), Yamaha, JBL dapat kita temui di Hard Off. Tetapi yang harus diperhatikan adalah rata-rata tegangannya adalah 110 Volt, sehingga tidak bisa dipakai di Indonesia, kecuali di modif atau kita pakai Trafo Step Down. Tetapi beberapa barang kadang ada juga yang tegangannya 110 sekaligus 220 Volt.






Nah, kira-kira sementara itu yang bisa saya ceritakan tentang alat-alat musik yang ada di Hard  Off, Jepang. Sebenarnya masih banyak yang bisa ditampilkan, nanti akan saya lengkapi di postingan selanjutnya. Terimakasih sudah bersedia membaca, dan silahkan tuliskan comment jika ada pertanyaan atau kesan terkait postingan ini.

Thursday, May 18, 2017

Catatan Kunjungan Menteri ESDM ke Jepang; arah kebijakan sektor energi dan mineral ke depan ....

Saya (Jas Putih) berfoto bersama Pak Jonan di Balai Indonesia, Tokyo

Hari Minggu 14 Mei 2017 yang lalu dengan maksud menemani istri yang merupakan staf kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral, saya pergi ke Balai Indonesia, Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), di Meguro, Tokyo untuk menghadiri acara Pertemuan Menteri ESDM Bapak Ignasius Jonan, dengan masyarakat Indonesia yang tinggal di Jepang. Ada misi lain juga yaitu mendapat titipan dari teman-teman Radio Persatuan Pelajar Indonesia Jepang (PPIJ Radio) untuk meliput kunjungan Bapak Ignasius Jonan tersebut. Sambil menyelam minum air, begitulah kebiasaan saya yang tidak mau rugi. Berusaha melangkah tetapi mendapatkan 2-3 manfaat sekaligus. Dengan naik kereta api dari Tsukuba ke Meguro, dengan route Tsukuba Express (Tsukuba – Akihabara), dilanjutkan Yamanote Line (Akihabara – Meguro), akhirnya saya bisa sampai Balai Indonesia, 30 menit sebelum acara dimulai.

Acara dmulai dengan makan siang makanan khas Indonesia. Sebelum Pak Menteri ESDM datang sempat pula bertemu dengan Ibu. Dr Alinda F.M. Zain, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Jepang, yang merupakan kader ICMI, Orsat Bogor. Setelah say hello menyampaikan salam dari teman-teman ICMI Pusat di Jakarta, akhirnya rombongan Menteri ESDM sampai di lokasi acara. Tidak ada acara presentasi, acara dilanjutkan dengan tanya-jawab langsung selama kurang lebih satu jam. Menteri ESDM berusaha menjawab beberapa isu yang menjadi pertanyaan masyarakat Indonesia yang tinggal Jepang.

Pertama yang perlu dicatat adalah kebijakan di bidang pertambangan terkait Freeport, yang merupakan lingkup sektor di bawah ESDM. Menurut Menteri ESDM saat sedang dilakukan negosiasi antara PT. Freeport dengan pihak pemerintah. Beberapa syarat sudah mulai menemukan titik temu seperti divestasi lebih dari 50% saham ke pihak Indonesia, perubahan dari kontrak kerja ke izin pertambangan khusus, dan kewajiban membangun semelter selama 5 tahun ke depan dan tiap 6 bulan dievaluasi. Kebijakan ini tentu harus kita sambut gembira, tetapi ada beberapa catatan diantaranya adalah konsistensi kebijakan pemerintah ke depan, dan kemudian pihak Indonesia yang mana yang akan menerima manfaat dari divestasi saham freeport. Apakah benar rakyat dan umat akan diuntungkan atau hanya akan menguntungkan pihak tertentu terkait kebijakan divestasi ini.

Yang kedua adalah komitmen pemerintah untuk menyediakan listrik bagi 2500 desa di Indonesia yang saat ini belum teraliri listrik sama sekali. Menteri ESDM menyatakan bahwa minimal listrik bisa disediakan untuk lampu penerangan dahulu, untuk selanjutnya ditingkatkan kapasitasnya. Teknologi yang akan dipilih memanfaatkan potensi lokal baik menggunakan Mikrohidro maupun menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang terpusat. Dari kebijakan ini ada catatan yang perlu digaris-bawai mengingat teknologi ini masih mengandalkan barang import. Ke depan perlu dibangun industri-industri dalam negeri yang mendukung teknologi ini. Dan pengalaman ini terkait PLTS, banyak PLTS yang akhirnya mangkrak karena setelah diserahkan ke masyarakat, masyarakat tidak mampu memelihara dan menyediakan suku cadang dengan swa-mandiri. Komponen baterai yang harus diganti menjadi kendala pertama, disamping suku cadang lainnya.

Yang ketiga adalah kebijakan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLT Sampah). Menteri ESDM menyatakan bahwa terkait PLT Sampah tidak ada subsidi. Semua akan dijalankan dengan mekanisme pasar bisnis to bisnis dengan perhitungan adcost, dan tambahan margin utk insentif penyedia jasa. Untuk kebijakan ini memang harus dipertimbangkan juga mengingat PLT Sampah tidak semata-mata hanya menyasar energi, tetapi ada efek kebersihan lingkungan yang menjadi tujuan lainnya. Di Jepang pun energi dari PLT Sampah tidak terlalu diandalkan, meskipun Jepang punya 1024 buah PLT Sampah dengan kapasitas 11 Megawatt per unitnya rata-rata. Tetapi semua orang tentu mengakui, betapa bersihnya Jepang dengan kebijakan ini.

Yang keempat adalah kebijakan mencabut subsidi pengguna listrik 900 watt. Menteri ESDM menyatakan bahwa pengguna listrik dengan kapasitas 900 waat ini adalah sekitar 23 juta dan yang miskin dan benar-benar membutuhkan energi hanya sekiat 10%, sehingga pemerintah mengambil kebijakan untuk dicabut subsidinya. Sedang yang 10% dari 23 juta pelanggan disubsidi semacam KJS Energi. Dampak bagi rakyat dan umat mungkin akan terasa bagi pengguna listrik 900 watt yang memang sebenarnya tidak mampu.

Yang kelima adalah kebijakan prioritas energi baru dan terbarukan, dimana saat ini Geothermal, PLTS, Mikrohidro, dan PLT Sampah terus dikembangkan. Sedangkan Bioenergi dari Biomassa menjadi prioritas selanjutnya, dan yang menjadi prioritas terakhir adalah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Dalam kesempatan ini Menteri ESDM juga menyatakan, dengan kunjungannya ke Jepang dengan membawa semua Dirjen terkait termasuk staf ahli Presiden Bapak Rahmat Gobel, Jusman Safei Jaman dan lain-lainnya dimaksudkan untuk jemput bola dan memberi pesan ke pihak Jepang bahwa Indonesia serius bermitra di bidang energi dengan Jepang.

Demikian catatan dan sedikit review dari kunjungan Menteri ESDM ke Jepang, yang dimulai dari tanggal 14 Mei 2017 kemarin sampai beberapa hari ke depan. Salam dari Negeri Sakura ...